-160213-
Hari Minggu pagi sekitar pukul 07.15 seusai mandi dan mencuci baju, dan berpamitan dengan ibu kost, aku dan mbak berangkat menuju ke kost mbak yang lama di Gamping, Yogyakarta. Jalan masih terlihat lengang maka ku tancap gas motor mio berwarna biru dengan kecepatan yang lumayan seperti pembalap Valentino Rossi (mulai lebay, kala-kala). Wah, ternyata jalan di Jogja masih tertutup abu tebal letusan gunung Kelud lusa kemarin (maklum tadi malam tidak hujan). Meskipun sudah memakai masker dan menutup helm, namun mata tetap kelilipan abu yang terbang terkena angin. Akhirnya aku minta mbak untuk gantian mengendarai karena mataku pedih. Tak berapa lama perut ini keroncongan, sampai lupa tadi belum sarapan. Menemukan warung soto di kiri jalan, mbak memarkir motor dan langsung memesan soto sapi dengan harga lumayan mahal namun porsi tak mengenyangkan, itu pun ditambah penantian lama sampai sepasang kekasih yang duduk di hadapanku dan mbak memutuskan pergi, mungkin dari kejadian itu pemilik warung merasa bersalah dan tak berapa lama kemudian soto yang kami pesan datang. Setelah perut keganjal makanan, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di kost mbak sekitar pukul 09.25, beres-beres kamar lalu mbak pergi karena ada keperluan sedangkan aku tetap di kost sendirian. Menanti lama akhirnya ba’da Dhuhur mbak pulang. Ba’da Asharnya aku dan mbak pergi keluar mencari menu incaran kami sejak lama, yaitu karbonara, makanan khas Belanda yang ada di Roti Papi, satu kompleks dengan An/Or Bookstore. Tak lupa pula mbak dengan tugasnya, yaitu menempelkan brosur (berisi lowongan kerja sebagai tentor di tempat bimbelnya) di mading masjid UNY, yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat tujuan kami. Ternyata sudah menempuh jarak jauh dari kost ke tujuan, eh malah tutup, ya sudahlah. Perut yang belum terisi makanan sejak tadi siang memaksa kami mencari alternatif lain, mengelilingi jalan Jogja dari Timur ke Barat sampailah kami di rumah makan gudeg. Wow.. nasinya banyaknyoon.. hitung-hitung seimbang dengan kelaparan kami tadi, hihi. Nasi gudeg dengan porsi besar itu pun habis tanpa sisa di hadapanku, dengan segelas teh yang hanya tersisa gelasnya saja. Setelah kenyang, kami membeli martabak untuk cemilan nanti malam (takut lapar melanda, hihi). Malamnya, kami packing dan tidur lebih awal.
Keesokan harinya (17/02), ba’da Subuh sekitar pukul 06.00 dan belum mandi, aku dan mbak berangkat kembali ke Blabak dengan satu kardus, satu tas jinjing besar, satu tas kresek, dan satu tas punggung, wow. Sampai di kost baru (di Blabak) sekitar pukul 07.30 kami langsung bergantian untuk mandi dan mencuci. Pukul 10.30 kami dilanda kelaparan (maklum tadi pagi hanya minum susu dan makan martabak yang dibeli sore lalu, hehe), maka dari itu mbak mengajakku untuk bersiap-siap berangkat ke tempat bimbel, pukul 11.15 kami pun berangkat sembari mencari warung makan yang buka dan ketemunya lagi-lagi soto, menunggu agak lama akhirnya pesanan kami tiba, tak heran ketika soto yang masih panas datang kami langsung menyambarnya meskipun dengan menggigit lidah karena kepanasan, hihi. Setelah kenyang dengan cita rasa soto yang tak mengecewakan seperti kemarin, kami melanjutkan perjalanan ke tempat bimbel.
To be continued...
Sabtu, 28 Maret 2015
Cerpenku: Tanah Air (Negeri Sendiri)
Assalamu’alaykum Wr.Wb..
Cerita ini hanyalah cerita fiktif hasil karya imajinasi, merupakan suatu CERITA ANALOGI yang diangkat dari kehidupan nyata sang penulis.
Perkenalkan namaku Ran, Azura Mutiara Kiran lengkapnya, anak bungsu dari empat bersaudara. Aku lahir di negeri yang kaya akan sumber daya alam, tepatnya di sebuah kota kecil di tengah megahnya dua gunung dan dikelilingi deretan perbukitan, sebut saja kota hutan. Delapan belas tahun aku menetap dengan cerita kehidupan yang bisa terbilang nyaman, rasa bangga dan tertarik dengan negeri ini pun mulai tumbuh subur di hati. Sampai suatu ketika usiaku mulai dewasa, pemikiranku mulai matang, dan pengalamanku mulai banyak, kulihat dan kurasakan negeri ini tidak seindah semasa kecilku dahulu, pandanganku terhadapnya bagaikan pandangan sebelah mata. Melalui siaran televisi, aku melihat negeri di luar sana lebih indah dari negeri ini. Pesona keelokannya membuat orang-orang lebih ramai mengunjungi tempat itu. Aku ingin kesana, batinku. Aku pun memutuskan untuk berkelana ke negeri lain.
Saat tiba di negeri pertama keadaannya sangat berbeda dengan negeriku, dengan teknologinya yang sudah maju, semua serba canggih. Aku menjelajahi isi negeri tersebut dan kutemukan sebuah barang yang hendak kubeli untuk dijadikan buah tangan, ternyata setelah diteliti barang tersebut buatan negeriku sendiri. Aku sedikit tak percaya, barang karya negeriku dapat menembus pasar negeri semaju ini. Akhirnya kuurungkan niat untuk membelinya. Jauh-jauh ke negeri orang hanya untuk membeli barang negeri sendiri, alangkah lebih baiknya jika membeli langsung dari pembuatnya di negeri sendiri, pikirku. Tak lama tinggal di sini, perasaan bosan mulai menyelimuti, terlebih gaya hidup dan pergaulan di sini terbilang seronok, menambah ketakutan pada diri, tak seperti di negeri sendiri yang penduduknya masih memiliki rasa malu. Kerinduan itu mulai kurasakan.
Aku putuskan untuk berkelana ke negeri kedua, memang tak seindah dari negeri pertama namun tak ada salahnya menginjakkan kaki ke negeri yang belum pernah kujelajahi. Tak berapa lama tinggal, aku memutuskan untuk berkelana ke negeri lain. Hal ini karena penduduk di sini acuh tak acuh dan terbilang tidak ramah bahkan sulit untuk diajak basa-basi, semua serba serius serasa tak ada interaksi sosial karena sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika hendak membeli buah tangan, aku menemukan barang yang ternyata juga buatan negeriku. Sangkaanku terhadapnya ternyata kurang sesuai dengan pandangan awalku. Rasa bangga diikuti rasa rindu ingin kembali mulai muncul, terlebih jika mengingat perilaku penduduk negeri ini yang tidak seramah di negeri sendiri. Tapi keinginan untuk menjelajahi negeri lain yang lebih indah seperti yang pernah ku lihat di televisi begitu besar sehingga kuurungkan niat untuk kembali ke negeri sendiri.
Di negeri ketiga ini, ragam budayanya dapat dibilang banyak, namun ada perasaan sedikit mengganjal di hati. Salah satu budaya negeriku di tampilkan di sini dan diakui murni budaya negeri ini. Aturan yang melarang mengenakan hijab pun ditegakkan di beberapa wilayah negeri ini. Aku yang sejatinya seorang muslim sudah barang tentu mengetahui bahwa hijab adalah suatu kewajiban, tentu tidak akan melepaskannya begitu saja meskipun orang-orang disini menyarankan untuk melepas, dan tak sedikit yang mencemooh. Perasaan menyesal itu mulai muncul, ketika semakin jauh aku menjelajah negeri lain semakin tak seindah dan sebaik negeri sendiri. Perasaan itu mencuat dengan mengetahui budaya negeri sendiri diklaim oleh negeri lain. Dan lagi-lagi barang buatan negeri sendiri menembus wilayah yang notabene jauh dari jangkauan negeriku. Kerinduan akan negeri sendiri membuatku kembali setelah sekian lama aku meninggalkannya karena mencari negeri yang lebih indah darinya.
Saat aku kembali ke negeri sendiri, aku mulai paham bahwa yang ditampilkan oleh negeri lain dalam siaran televisi hanyalah keindahan bentang alam, budaya serta perilaku yang baik di mata orang sehingga mampu menarik wisatawan untuk berkunjung, sedangkan kejadian-kejadian yang tidak baik disembunyikan dari publik. Bandingkan dengan negeri sendiri yang tiap hari selalu ada saja kejadiannya, dan mudah berkembang menjadi sorotan sehingga publik dapat dengan cepat mengetahuinya. Namun itu hanyalah pandangan sebelah mata karena tak selamanya penampakan luar yang indah menampilkan kesan yang indah pula di dalamnya. Negeri ini sejatinya indah jika lebih mendalami untuk mengenal sejarahnya, hanya karena dipandang sebelah mata saja oleh penduduknya sehingga pancaran alami dari dalam negeri ini pun redup. Pengalaman berkelana ke negeri lain menjadi guru terbaik bagiku, apa yang aku inginkan memang ada di negeri lain namun apa yang sebenarnya aku butuhkan ternyata ada di depan mata, hanya perlu menengok lebih dalam untuk dapat mengenalnya, mempelajari dengan lebih sabar dan serius agar dapat mengetahuinya, serta menjaga dan melestarikan dengan penuh cinta agar memperoleh manfaatnya. Ya, di sini, di negeri sendiri. Sebuah petikan sajak dari sebuah syair pun berbunyi:
By:
RAN’s
Cerita ini hanyalah cerita fiktif hasil karya imajinasi, merupakan suatu CERITA ANALOGI yang diangkat dari kehidupan nyata sang penulis.
Perkenalkan namaku Ran, Azura Mutiara Kiran lengkapnya, anak bungsu dari empat bersaudara. Aku lahir di negeri yang kaya akan sumber daya alam, tepatnya di sebuah kota kecil di tengah megahnya dua gunung dan dikelilingi deretan perbukitan, sebut saja kota hutan. Delapan belas tahun aku menetap dengan cerita kehidupan yang bisa terbilang nyaman, rasa bangga dan tertarik dengan negeri ini pun mulai tumbuh subur di hati. Sampai suatu ketika usiaku mulai dewasa, pemikiranku mulai matang, dan pengalamanku mulai banyak, kulihat dan kurasakan negeri ini tidak seindah semasa kecilku dahulu, pandanganku terhadapnya bagaikan pandangan sebelah mata. Melalui siaran televisi, aku melihat negeri di luar sana lebih indah dari negeri ini. Pesona keelokannya membuat orang-orang lebih ramai mengunjungi tempat itu. Aku ingin kesana, batinku. Aku pun memutuskan untuk berkelana ke negeri lain.
Saat tiba di negeri pertama keadaannya sangat berbeda dengan negeriku, dengan teknologinya yang sudah maju, semua serba canggih. Aku menjelajahi isi negeri tersebut dan kutemukan sebuah barang yang hendak kubeli untuk dijadikan buah tangan, ternyata setelah diteliti barang tersebut buatan negeriku sendiri. Aku sedikit tak percaya, barang karya negeriku dapat menembus pasar negeri semaju ini. Akhirnya kuurungkan niat untuk membelinya. Jauh-jauh ke negeri orang hanya untuk membeli barang negeri sendiri, alangkah lebih baiknya jika membeli langsung dari pembuatnya di negeri sendiri, pikirku. Tak lama tinggal di sini, perasaan bosan mulai menyelimuti, terlebih gaya hidup dan pergaulan di sini terbilang seronok, menambah ketakutan pada diri, tak seperti di negeri sendiri yang penduduknya masih memiliki rasa malu. Kerinduan itu mulai kurasakan.
Aku putuskan untuk berkelana ke negeri kedua, memang tak seindah dari negeri pertama namun tak ada salahnya menginjakkan kaki ke negeri yang belum pernah kujelajahi. Tak berapa lama tinggal, aku memutuskan untuk berkelana ke negeri lain. Hal ini karena penduduk di sini acuh tak acuh dan terbilang tidak ramah bahkan sulit untuk diajak basa-basi, semua serba serius serasa tak ada interaksi sosial karena sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika hendak membeli buah tangan, aku menemukan barang yang ternyata juga buatan negeriku. Sangkaanku terhadapnya ternyata kurang sesuai dengan pandangan awalku. Rasa bangga diikuti rasa rindu ingin kembali mulai muncul, terlebih jika mengingat perilaku penduduk negeri ini yang tidak seramah di negeri sendiri. Tapi keinginan untuk menjelajahi negeri lain yang lebih indah seperti yang pernah ku lihat di televisi begitu besar sehingga kuurungkan niat untuk kembali ke negeri sendiri.
Di negeri ketiga ini, ragam budayanya dapat dibilang banyak, namun ada perasaan sedikit mengganjal di hati. Salah satu budaya negeriku di tampilkan di sini dan diakui murni budaya negeri ini. Aturan yang melarang mengenakan hijab pun ditegakkan di beberapa wilayah negeri ini. Aku yang sejatinya seorang muslim sudah barang tentu mengetahui bahwa hijab adalah suatu kewajiban, tentu tidak akan melepaskannya begitu saja meskipun orang-orang disini menyarankan untuk melepas, dan tak sedikit yang mencemooh. Perasaan menyesal itu mulai muncul, ketika semakin jauh aku menjelajah negeri lain semakin tak seindah dan sebaik negeri sendiri. Perasaan itu mencuat dengan mengetahui budaya negeri sendiri diklaim oleh negeri lain. Dan lagi-lagi barang buatan negeri sendiri menembus wilayah yang notabene jauh dari jangkauan negeriku. Kerinduan akan negeri sendiri membuatku kembali setelah sekian lama aku meninggalkannya karena mencari negeri yang lebih indah darinya.
Saat aku kembali ke negeri sendiri, aku mulai paham bahwa yang ditampilkan oleh negeri lain dalam siaran televisi hanyalah keindahan bentang alam, budaya serta perilaku yang baik di mata orang sehingga mampu menarik wisatawan untuk berkunjung, sedangkan kejadian-kejadian yang tidak baik disembunyikan dari publik. Bandingkan dengan negeri sendiri yang tiap hari selalu ada saja kejadiannya, dan mudah berkembang menjadi sorotan sehingga publik dapat dengan cepat mengetahuinya. Namun itu hanyalah pandangan sebelah mata karena tak selamanya penampakan luar yang indah menampilkan kesan yang indah pula di dalamnya. Negeri ini sejatinya indah jika lebih mendalami untuk mengenal sejarahnya, hanya karena dipandang sebelah mata saja oleh penduduknya sehingga pancaran alami dari dalam negeri ini pun redup. Pengalaman berkelana ke negeri lain menjadi guru terbaik bagiku, apa yang aku inginkan memang ada di negeri lain namun apa yang sebenarnya aku butuhkan ternyata ada di depan mata, hanya perlu menengok lebih dalam untuk dapat mengenalnya, mempelajari dengan lebih sabar dan serius agar dapat mengetahuinya, serta menjaga dan melestarikan dengan penuh cinta agar memperoleh manfaatnya. Ya, di sini, di negeri sendiri. Sebuah petikan sajak dari sebuah syair pun berbunyi:
Walaupun banyak negeri ku jalani,
yang mahsyur permai dikata orang,
Tetapi kampung dan rumahku,
di sanalah kurasa senang,
Tanahku tak kulupakan,
engkau kubanggakan.Wa’alaykumussalam Wr.Wb..
By:
RAN’s
Rabu, 20 Agustus 2014
PUSAKANING DWI PUJANGGA NYAWIJI
Inilah semboyan kotaku yang selalu membuat rindu orang yang mengunjunginya, termasuk aku yang asli tinggal di sini. Dua pusaka yang menjadi satu (SALAH), taukah anda apa itu? Ternyata Pusakaning Dwi Pujangga Nyawiji merupakan sengkalan jawa yang menunjukkan tahun berdirinya kota ini (Pusakaning=5, Dwi=2, Pujangga=8, Nyawiji=1) sehingga dapat dibaca 5281 dan merupakan sangkalan untuk tahun 1825. Sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan berhawa sejuk, ditambah pesona megah berdirinya sang kakak beradik, gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Ya.. Wonosobo. Kota yang mampu menarik dan memikat hati bagi yang memandangnya. Kota dengan kesederhanaannya, namun indah karena pesonanya. Saat memasuki kawasan Wonosobo, kalian akan disambut dengan ramah oleh udara dingin nan sejuk yang mampu menggetarkan hati, bila cuaca cerah sambutan kedua berupa pemandangan megah berdirinya sang kakak beradik di sebelah kanan dan kiri bagai berucap selamat datang, sambutan terakhir saat memasuki gerbang kota yaitu sebuah sajak “Pusakaning Dwi Pujangga Nyawiji” dengan diiringi tulisan “Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah)”. Itulah perkenalan singkat dari sebuah “kota hutan”.
Hai, namaku Ran. Usiaku saat ini 19 tahun. Tak pernah terbayangkan 18 tahun aku tinggal di kota ini dan beranjak mulai meninggalkannya seiring studi lanjutku di Semarang. Hal yang membuatku selalu rindu dengan kota ini adalah udara sejuknya dengan pemandangan dua gunung megah yang setia berdiri kokoh. Disaat ada waktu luang, aku sempatkan untuk pulang menenangkan hati dan pikiran yang lelah diajak berkomunikasi tiada henti. Setiap hendak pulang, tak selalu berjalan lancar, tak sedikit halangan yang menghadang, namun prinsipku, “apapun yang menghalangiku untuk pulang, akan ku lewati meskipun penuh risiko, asalkan dapat menghirup udara sejuk itu dan bertemu keluarga di rumah”.
Alkhamdulillah ujian akhir semester III sudah selesai, ini berarti mempersiapkan planning berlibur ke Dieng Plateau bersama dua sahabatku. Rencana awal yaitu semua sahabatku, 5 orang ikut, namun mereduksi satu per satu dan hanya tersisa dua, Nafa dan Rini, hihi.. tak apalah, dimana ada kemauan pasti ada kesempatan. Oke rencana ke rumahku Sabtu siang, 18 Januari 2013 seusai acara musyat organisasi. Pada Kamis malam sebelum hari H, ada sebuah pesan masuk dari Rini, ternyata dia menjadi MC dalam acara musyang pada hari Senin. Oh apa yang harus aku lakukan, uang sakuku sudah limited edition, beras sudah diambang habis, air galon tingginya hanya beberapa sentimeter, aku pun sudah berkata kepada Ibu dan temanku Iid akan pulang hari Sabtu siang. Pikiranku seperti benang yang bundet, masalahku hari ini berderet-deret mengantri untuk diselesaikan, belum sampai masalah satu kelar, masalah lain datang meminta protes, dari mulai pengisian KRS yang kurang jelas, mengirim soft file LPJ musyat yang sudah ditunggu-tunggu, rencana main ke kost temenku di Pedurungan, sampai dana warung ilmiah yang aku pun tak tahu apa-apa tentang itu karena aku bukan bendahara, dan terakhir tentang acara main ke Dieng yang sudah matang sejauh-jauh hari sebelumnya. Aku katakan kepada Nafa mungkin acara main dibatalkan dan ku jelaskan alasannya. Ia pun memarahiku dan kecewa. Tak terasa air mataku menetes dan kian mengalir deras membaca pesan panjangnya. Aku menjauhkan ponselku dan merenungkan diri apa yang harus aku perbuat. Lama aku memikirkannya akhirnya dengan berat hati aku katakan kepada Nafa dan Rini bahwa acara main diundur Senin dengan konsekuensi tak ada yang mengantar kami ke Dieng nantinya (rencana awal diantar kakakku), aku pun sudah memberitahu Ibuku dan Iid. Akhirnya pun beberapa masalah dapat kuatasi dengan mengesampingkan egoku. Keesokan harinya aku dan Nafa pergi ke kost teman SMA-ku di Pedurungan, cuaca tak mendukung. Tujuan kami karena ada kepentingan, sepulang dari kost teman (sekitar pukul 13.20), aku dan Nafa ke kampus dengan basah kuyub karena kehujanan, ternyata teman-teman rombel sudah menunggu. Siang ini rombelku mengadakan acara makan-makan bersama asdos Taksonomi Hewan di Mas Pur. Hari Sabtu cuaca tak mendukung, semua mendung dan gelap diiringi guyuran hujan yang tiada henti dan acara musyat organisasiku ternyata usai pukul 16.30 WIB, inilah hikmah dari diundurnya rencana main. Pada hari Minggu malam disaat aku sedang santai di kamar, sebuah pesan singkat masuk, itu dari Iid yang berisi ia meminta maaf bahwa pulang ke Wonosobo diundur menjadi Selasa pagi karena Senin malam ada jadwal les (haduh, diundur lagi). Aku membicarakannya terlebih dahulu Nafa dan diputuskan kata sepakat pulang Selasa pagi. Akhirnya hari yang ditunggu-tuggu itu pun tiba, Selasa pagi pukul 06.15 aku berpamitan dengan Ibu kost dan berangkat menuju gang rumah kost Rini. Tak berapa lama, ia pun datang dan disusul oleh Iid, lalu kami menuju kost Nafa. Selama perjalanan cuaca selalu mendung dan terkadang hujan turun mengguyur, terpaksa kami berhenti sejenak dan memakai jas hujan. Di seperempat perjalanan, tepatnya di daerah Sumowono, kami beristirahat sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan, mengganjal perut kami dengan sebuah roti. Kabut tebal dan hujan membuat jarak pandang menjadi pendek. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan, ternyata di Temanggung kota tidak hujan, karena malas melepas jas hujan aku pun PD saja karena ku lihat di daerah barat (arah ke Wonosobo) terlihat mendung. Benar saja di daerah desa bernama Paponan hujan mengguyur lagi, sayangnya puncak gunung Sumbing dan gunung Sindoro tak terlihat jelas karena tertutup kabut, namun begitu Nafa yang satu motor denganku merasa takjub dan senang dengan pemandangan yang ku perlihatkan padanya. Sampai di kota Wonosobo ternyata tidak hujan, tetap saja dengan PD aku memakai jas hujan. Sampai di depan gang rumahku ternyata Iid dan Rini belum tiba. Menunggu sebentar akhirnya datang juga. Aku mengucapkan terima kasih kepada Iid karena sudah mau direpotkan dan menawarkan untuk ke rumahku, namun ia menolak. Sebelum ia pergi aku pun meminta bantuan kembali untuk menemani kami (aku, Nafa, dan Rini) main ke Dieng, jawabannya Insya Allah. Sampai di rumahku istirahat sebentar dan kami bertiga keluar untuk mencari makan siang. Sore harinya kami jalan-jalan ke Alun-alun dan Pendopo dan kemudian membeli baju. Pagi harinya, pukul 08.15 Iid sampai di depan gang rumahku, kami pun langsung berangkat ke rumah teman kami terlebih dahulu, yaitu Linda (kemarin kami mengajaknya karena dia ada motor namun tak bisa menggunakan, maka Nafa yang akan boncengan dengan Linda, aku dengan Rini, dan Iid sendiri). Tujuan awal kami adalah Tambi, yaitu hamparan kebun teh dengan pemandangan yang menakjubkan, tak lupa kami berfoto-foto ria, hehe. setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di gardu pemandangan. Namun sayang, cuaca mendung dengan angin kencang disertai butir-butir air. Dingin.. tentu, kabut.. ya, kami semua gemetaran, tapi semua itu sedikit demi sedikit hilang dengan sebuah pemandangan menakjubkan (Subhanallah). Next, akhirnya setelah melewati jalan berliku dan menanjak, kami sampai di pintu masuk Dieng Plateau, lagi-lagi Iid ketinggalan, terpaksa kami menunggunya sambil membayar tiket masuk (harganya @ Rp20.000,00 tapi kami menawar menjadi @ Rp16.000,00). Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Nafa dan Rini takjub melihatnya. Tak terasa waktu sholat Dhuhur tiba, aku, Nafa, dan Iid sholat di Mushola tempat kami parkir, sedang Rini dan Linda menunggu di luar Mushola. Seusai sholat kami melanjutkan ke obyek kedua, yaitu Dieng Cinema. Namun, disaat keluar dari tempat parkir, ban motor Iid bocor, kami pun mencari tempat tambal ban dan menunggunya. Lama kami menunggu akhirnya selesai juga dan kami langsung tancap gas menuju Dieng Cinema. Wow.. yang menonton film hanya kami berlima disebuah ruangan yang cukup luas. Keluar dari tempat tersebut kami terkejut karena cuaca menjadi berkabut dan mendung, karena takut kehujanan maka kami terpaksa melewatkan satu obyek, yaitu Sikidang Crater dan menuju ke kawasan Candi Arjuna, saat pulang Rini tak lupa untuk membeli bunga abadi, yaitu bunga Edelweis yang kebetulan banyak dijual disekitar tempat parkir kawasan candi. Setelah puas kami pun pulang dan tiba di pusat oleh-oleh waktu Ashar, lalu kami mampir ke rumah Linda terlebih dahulu untuk sholat dan sekedar istirahat. Ada sebuah pesan masuk, itu dari Ibuku. Beliau menyuruhku untuk tidak pulang terlalu sore. Akhirnya kami pamit pulang dan membeli mie ongklok, makanan khas Wonosobo di Longkrang. Aku sempat membelikan Iid mie ongklok sebagai tanda terima kasihku padanya. Sampai di rumah, kami bertiga langung menyantap mie ongklok yang sudah kami beli tadi. Usai makan, Nafa dan Rini langsung berebut kamar mandi. Ba’da Maghrib, Bapakku mengajak kami dan keluargaku makan mie ongklok di Jl. A. Yani yang terkenal enak. Haduh, mie ongklok dalam perut kami belum selesai dicerna sudah harus ditambah mie ongklok lagi. Karena kenyang, Nafa dan Rini sepiring berdua, aku hanya makan satenya saja sambil sesekali mencicipi mie ongklok milik Ibuku, hihi.. ternyata rasanya lebih nendang (emangnya sepak bola) dari yang tadi kami beli, Nafa dan Rini pun mengakuinya dan jatuh hati pada rasa mie ongklok. Perjalanan yang lelah hari ini membuat kami bertiga tidur lebih awal, karena besok Nafa dan Rini pulang ke daerah masing-masing. Esok harinya, sekitar pukul 06.10 keluargaku mengantar Nafa dan Rini ke terminal Mendolo. Di Plaza, ada bus jurusan Semarang-Purwokerto sedang berhenti untuk mencari penumpang. Karena masih sepi dan lama, kami memilih ke terminal dan ternyata di terminal tidak ada bus jurusan Semarang-Purwokerto, akhirnya kami memutar arah dan kembali ke Plaza tempat bus tadi nge-time, berharap busnya masih ada. Alhamdulillah busnya masih ada, dan di dalamnya sudah ada beberaa penumpang. Setelah memastikan kedua sahabatku duduk di dalam bus, aku beserta keluarga pulang.
Itulah sepenggal kisah tentang Dataran Tinggi Dieng yang aku kunjungi untuk mengisi liburan kali ini. Tempat khas yang dapat memikat hati orang-orang yang mengunjunginya, sehingga mereka yang pernah berkunjung ke tempat tersebut ingin mengunjunginya kembali, salah satu tempat unggulan wisata dengan pesona alam yang dimiliki kota ini, kota yang berciri khas, dengan banyak budaya, makanan khas, serta obyek-obyek wisata menakjubkan yang belum banyak diketahui orang. WONOSOBO ASRI.. kau selamanya di hati.
Jumat, 18 Juli 2014
LIBURAN SEMESTER 3: #1 KEJUTAN DI HARI PERTAMA KOST
“sampai disini paham?”, tanyaku.
“Iya, Insya Allah”, jawabnya.
Karena ia menjawab begitu aku lanjutkan materi dan memberinya tugas. Tapi ada yang mengganjal di hati, kenapa dia tidak bisa mengerjakan? Apakah aku terlalu cepat? Ku ulang kembali langkah-langkah mengerjakan soal. Karena hari itu aku mengajar privat, maka aku tak menuliskannya di papan tulis, namun di buku kosong. Selesai soal tadi terbahas, aku beri ia soal kembali untuk dikerjakan, kali ini langkah-langkah sudah benar, tapi ia nampak sedikit ragu, benar saja tak berapa lama ia mengatakan bahwa cara yang diajarkan di sekolah berbeda dengan cara yang ku ajarkan. Ku lihat catatannya dan ku ulang kembali cara menyelesaikan soal dari awal tadi. Ternyata waktuku tak banyak, kali ini aku melebihi waktu tutupnya bimbel, yaitu 17.40, karena sudah mulai paham, maka ku beri ia PR dan bila dapat mengerjakan benar, aku berjanji memberinya hadiah. Pulang ke kost menjelang adzan Maghrib, sampai di kamar, wow.. sudah ada kasur serta bantal dan guling yang tertata rapi. Tak berapa lama kemudian adzan Maghrib berkumandang, ketiga anak perempuan ibu kost mengajak aku dan mbak untuk sholat berjamaah di Mushola. Seusai sholat, aku dan mbak langsung menata barang-barang kami yang belum sempat tertata tadi siang.
“Mbak, ayo.. disuruh ibu makan malam bareng”, ajak putri sulung ibu kost.
Alkhamdulillah.. beruntungnya tadi belum membeli makan malam (rencana ba’da Maghrib). Ibu kost memang baik, seorang istri solehah yang mampu menjaga harta dan dirinya ketika suaminya pergi jauh. Suami ibu kost bekerja di Surabaya dan pulang satu atau dua kali sebulan.
Keesokan harinya (14/02) aku dan mbak bangun dengan mata setengah terbuka. Waktu menunjukkan pukul 05.10, hari masih gelap, tak ada perasaan aneh kala itu saat kulihat paving depan kost berwarna putih, sewaktu hendak berwudhlu di kamar mandi, aku mendengar beberapa orang sedang berbincang di jalan depan rumah ibu kost. Seusai sholat, ada sebuah pesan masuk dari temanku, berisi bahwa pagi ini di Wonosobo hujan abu. Aku yang belum sadar mengira disini tidak hujan abu, namun setelah berbincang sedikit lebih lama dan mendapat kepastian bahwa gunung Kelud meletus, rasa penasaran memaksaku untuk membuka pintu kamar, dan ternyata.. astaghfirullah.. genteng rumah ibu kost berubah menjadi putih kelabu dengan rintik-rintik abu yang masih deras. Aku terkejut dan memberitahu mbak, awalnya ia sudah merasa aneh, abu yang turun dalam cahaya lampu kamar mandi dikiranya debu biasa, tak berapa lama rintik-rintik hujan mulai berdenting, terdengar teriakan ibu kost dari seberang kamar memberitahu kami bahwa hujan abu dan menyuruh kami untuk masuk ke rumahnya. Putri sulung beliau menjemput kami dengan sebuah payung. Tak ku sangka hujan ini bukan hujan air biasa, melainkan bercampur pasir, jilbab putih polosku kini bermotif titik butir pasir dan air di bagian lengan sebelah kanan. Sungguh ngeri menyaksikan kejadian itu. Jika kata ‘mereka’ tanggal ini sebagai hari v*l*n*t*n*, maka Allah berkata lain, dan kejadian ini membuktikan ke Maha Agungan-Nya, sebagai pelajaran untuk kita yang lalai terhadap-Nya.
“hari pertama kost malah disambut seperti ini ya mbak”, ujar ibu kost.
Setelah hujan reda, aku dan mbak pamit kembali ke kamar, lalu kami diberi sarapan berupa gorengan dua gelas teh hangat.
“cuaca seperti ini tidak ada yang jual sarapan”, tutur beliau sembari menyodorkan nampan berisi gorengan dan dua gelas teh hangat.
Genteng rumah ibu kostang tertutup abu

Jalan yang tadinya aspal berubah layaknya tanah

Keluar gang menuju jalan raya
Jalan yang tadinya aspal berubah layaknya tanah
Keluar gang menuju jalan raya
Tebalnya abu memperpendek jarak pandang
Putar arah
Abu menutupi aspal di sebelah kiri
Jalan yang biasanya ramai kini tampak lengang
Dan di tengah jalan yang hampir sampai di rumah nenek, ada kerumunan kerbau, hihi.
Sampai di rumah nenek ternyata abu tak setebal seperti di daerah Blondo tadi. Meletakkan barang-barang, kami langsung menggoreng dan mengukus frozen food yang sudah kami beli di tempat ibu kost untuk dijadikan cemilan dan lauk makan siang. Lapar membuatku banyak menghabiskan mantao, hihi dan alhamdulillah kenyang. Benar kata mbak, cuaca tak menentukan, bimbel diliburkan, dan rumah nenek jadi incaran (^_^). Malam hari ba’da Isya’, motor mio merah yang menemani perjalanan hari itu kami cuci karena sangat kotor terkena abu dan hujan pasir tadi pagi. Kami menginap semalam di rumah nenek dan keesokan paginya (15/02), kami berangkat ke kost lebih awal, sektar pukul 07.15. Degan mengendarai motor mio biru sekarang, kami berboncengan menuju Blondo. Sampai di kost, aku langsung mendahului mbak menjemur pakaian yang sudah kami cuci sebelumnya di tempat nenek. Ibu kost yang keluar terkejut dengan motor kami yang berubah warna.
“lho mbak motornya kog jadi biru?” tanya ibu kost heran.
Pukul 11.00 lebih kami berangkat ke tempat bimbel, dan seperti biasa sudah ada teman mbak yang stay on disana. Setelah sholat Dhuhur aku menanti jam sembari duduk di sofa.
to be continued..
Langganan:
Postingan (Atom)






