Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Senin, 01 Juni 2015

Teruntuk Orang-Orang dalam Do’aku

-010615-

Aku, merasa tak pernah sebegitu penting di mata kalian
layaknya orang-orang penyandang gelar
Aku tak pernah ingin memberitahu kalian
untuk mengerti aku

Saat kebahagiaanku tiba,
Aku menarik kalian mendekat kepadaku,
mencoba berbagi hangatnya kebahagiaan bersama
Saat kebahagiaanku tak datang,
Aku mengulur kalian menjauh dariku,
Bukan maksud tak ingin berbagi, aku hanya tak ingin
melihat penyejuk hariku selama ini
hilang sekejap dalam pandangan mata

Hari kemarin menjadi guru terbaik dalam
perjuangan melawan diri sendiri
Harapku di dalam kalbu,
kalian datang menemaniku
Dan takdir memang menyuruh kalian datang kepadaku,
Memberikan secercah harapan
Untuk bangkit dari keterpurukan
Melontarkan tawa untuk membahagiakan sesama,
Serta melantunkan do’a sebagai penawar luka

Hanya satu kata yang dapat aku utarakan,
Terimakasih..
Terimakasih untuk waktu yang kalian berikan,
Terimakasih untuk kepercayaan yang kalian titipkan,
dan terimakasihku kepada Allah
yang masih mengizinkanku bersama kalian yang ku kenal kini,
Aku mengenal kalian tanpa sengaja,dan mencoba
menjaga kalian melalui bisikan do’a malam,
“aku menyayangi kalian karena Allah”

By: RAN’s

Sabtu, 09 Mei 2015

Satu Bulan Bertahan

Assalamu’alaikum..
Tak terasa semester V sebentar lagi usai, hanya tinggal menghitung mundur menuju Ujian Akhir Semester (UAS), setelah itu ucapkan selamat datang kepada semester VI, yeeay..
Eitss.. tunggu dulu, bicara soal UAS, pasti.. perjuangan banget (lebay). Why? Sama seperti semester sebelum-sebelumnya, menjelang minggu tenang merupakan hari tersibuk bagi mahasiswa (menurutku), terutama bagi orang-orang yang mengambil mata kuliah sains sepertiku. Sains tak lepas dari yang namanya praktikum. Menememukan, menguji, dan menggunakan teori untuk memecahkan masalah adalah santapan sehari-hari dibidang studiku. Biarlah orang berkata apa, menyendiri di kamar mengerjakan laporan jauh berbanding terbalik dengan wekeend yang seharusnya digunakan untuk refreshing. Ya.. itulah uniknya jurusanku. Bahkan begadang sampai pagi merupakan hal yang biasa, dan balas dendamnya adalah HIBERNASI, hihihi (ketawa jahat).
Tak terasa sudah satu bulan aku disini. Tugas-tugas yang setia menemaniku membuat bayang-bayang kampung halaman seolah takut mendekatiku. Jika diibaratkan sebuah baterai netbook, mungkin energiku sudah berada pada garis merah pertanda harus segera diisi ulang, namun masih saja tetap digunakan untuk melembur tugas-tugas serta responsi yang biasanya menumpuk di akhir perkuliahan.
Di tengah kesibukanku, ada sebuah benda yang selalu menemani dan membantuku mengerjakan tugas-tugas. Benda kecil berwarna hitam yang sudah dua setengah tahun ku miliki, ya.. netbook. Ketika tugas menghampiri, ia selalu ada dan selalu siap aku pakai, terkadang kita sepakat untuk lembur bersama namun ada kalanya profesinya berubah menjadi satpam tidurku (aku tinggal tidur maksudnya, hehe).
Semester V ini merupakan semester yang lebih “longgar” dibanding semester IV bahkan teman-teman juga merasakan hal yang sama, namun tetap saja, kuantitas beban tugas di akhir perkuliahan semester ini lebih berat dari semester lalu.
Bicara soal UAS, tadi.. mungkin terlintas dalam pikiran “hampir UAS, tapi kok sempat nulis pengalaman?”, ya.. ini salah satu caraku untuk mengeluarkan uneg-uneg, daripada disimpan dalam pikiran malah menjadi toksin bagi tubuh, apalagi dibuang sia-sia mencemari lingkungan sekitar (marah-marah maksudnya), mending disalurkan lewat tulisan. Bukan sia-sia, bukan juga menghasilkan mudarat, tapi malah akan menghasilkan produk berupa tulisan yang Insya Allah memberi manfaat bagi pembaca.
Ini pengalaman kedua atau ketigaku selama kuliah, yaitu bertahan satu bulan di medan pertempuran. Mendengar teman-teman yang mau pulang kampung terkadang membuatku iri, karena biasanya maksimal tiga minggu sekali aku pulang kampung. Minggu ini, terpaksa aku harus ketinggalan beberapa kali pulang kampung dengan teman-teman. Tak apalah, semua akan tepat pada waktu-Nya. Lelah,? Pasti. Namun, perlu diingat, bahwa aku tidak sendirian disini. Ada sahabat, teman, dan cintaku, Rabb sang pemilik raga ini. Aku bersyukur bisa mengenal dua orang sahabat yang kini kumiliki, Nafa dan Rini. Aku mengenal mereka tanpa sengaja dan waktu yang menyeleksi mereka menjadi sahabat setia diantara teman-teman lain yang dekat denganku. Aku pun bersyukur memperoleh teman-teman yang baik di kelas, pun teman-teman organisasi yang kuanggap keluarga kedua dalam kehangatan wadah organisasi di ranah akademik sewangi bunga melati, dan aku lebih bersyukur karena aku masih diberi kenikmatan berupa kesehatan sehingga aku masih dapat menikmati hal-hal lain yang tanpa-Nya, tak akan bisa aku kerjakan. Selain dua sahabat yang setia, aku memiliki sebuah nama di hati. Nama yang aku ukir dengan tandas di awal semester V kemarin. Tak perlu aku beritakan layaknya bintang papan atas yang tengah naik daun. Hanya bisa aku jaga agar ia tidak luntur oleh kabut angan semata. Kini, aku hanya perlu mengukir cita-cita, amanah yang ku bawa dari orang tua, lalu ku letakkan 5 cm di depan mata, tak perlu melirik cita-cita milik kawan, hanya fokus pada tujuan semata, untukku, untuk kedua orang tua, untuknya, untuk sahabat dan teman-teman, untuk orang-orang yang aku sayangi, serta paling spesial dan paling utama diantara semuanya untuk Allah, Rabb pencipta alam semesta ini. Di sinilah ku temukan jodohku. Sains, ilmu yang mempelajari kehidupan yang penuh teka-teki dari-Nya, ilmu yang membuat hati tak pernah lelah berdecap kagum atas ciptaan-Nya, dan aku tak henti-hentinya bersyukur akan semua nikmat ini
. (^_^)
Wassalamu’alaikum..

Sabtu, 28 Maret 2015

LIBURAN SEMESTER 3: #3 BOYONGAN DARI GAMPING KE BLABAK

-160213-
Hari Minggu pagi sekitar pukul 07.15 seusai mandi dan mencuci baju, dan berpamitan dengan ibu kost, aku dan mbak berangkat menuju ke kost mbak yang lama di Gamping, Yogyakarta. Jalan masih terlihat lengang maka ku tancap gas motor mio berwarna biru dengan kecepatan yang lumayan seperti pembalap Valentino Rossi (mulai lebay, kala-kala). Wah, ternyata jalan di Jogja masih tertutup abu tebal letusan gunung Kelud lusa kemarin (maklum tadi malam tidak hujan). Meskipun sudah memakai masker dan menutup helm, namun mata tetap kelilipan abu yang terbang terkena angin. Akhirnya aku minta mbak untuk gantian mengendarai karena mataku pedih. Tak berapa lama perut ini keroncongan, sampai lupa tadi belum sarapan. Menemukan warung soto di kiri jalan, mbak memarkir motor dan langsung memesan soto sapi dengan harga lumayan mahal namun porsi tak mengenyangkan, itu pun ditambah penantian lama sampai sepasang kekasih yang duduk di hadapanku dan mbak memutuskan pergi, mungkin dari kejadian itu pemilik warung merasa bersalah dan tak berapa lama kemudian soto yang kami pesan datang. Setelah perut keganjal makanan, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di kost mbak sekitar pukul 09.25, beres-beres kamar lalu mbak pergi karena ada keperluan sedangkan aku tetap di kost sendirian. Menanti lama akhirnya ba’da Dhuhur mbak pulang.  Ba’da Asharnya aku dan mbak pergi keluar mencari menu incaran kami sejak lama, yaitu karbonara, makanan khas Belanda yang ada di Roti Papi, satu kompleks dengan An/Or Bookstore. Tak lupa pula mbak dengan tugasnya, yaitu menempelkan brosur (berisi lowongan kerja sebagai tentor di tempat bimbelnya) di mading masjid UNY, yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat tujuan kami. Ternyata sudah menempuh jarak jauh dari kost ke tujuan, eh malah tutup, ya sudahlah. Perut yang belum terisi makanan sejak tadi siang memaksa kami mencari alternatif lain, mengelilingi jalan Jogja dari Timur ke Barat sampailah kami di rumah makan gudeg. Wow.. nasinya banyaknyoon.. hitung-hitung seimbang dengan kelaparan kami tadi, hihi. Nasi gudeg dengan porsi besar itu pun habis tanpa sisa di hadapanku, dengan segelas teh yang hanya tersisa gelasnya saja. Setelah kenyang, kami membeli martabak untuk cemilan nanti malam (takut lapar melanda, hihi). Malamnya, kami packing dan tidur lebih awal.
Keesokan harinya (17/02), ba’da Subuh sekitar pukul 06.00 dan belum mandi, aku dan mbak berangkat kembali ke Blabak dengan satu kardus, satu tas jinjing besar, satu tas kresek, dan satu tas punggung, wow. Sampai di kost baru (di Blabak) sekitar pukul 07.30 kami langsung bergantian untuk mandi dan mencuci. Pukul 10.30 kami dilanda kelaparan (maklum tadi pagi hanya minum susu dan makan martabak yang dibeli sore lalu, hehe), maka dari itu mbak mengajakku untuk bersiap-siap berangkat ke tempat bimbel, pukul 11.15 kami pun berangkat sembari mencari warung makan yang buka dan ketemunya lagi-lagi soto, menunggu agak lama akhirnya pesanan kami tiba, tak heran ketika soto yang masih panas datang kami langsung menyambarnya meskipun dengan menggigit lidah karena kepanasan, hihi. Setelah kenyang dengan cita rasa soto yang tak mengecewakan seperti kemarin, kami melanjutkan perjalanan ke tempat bimbel.
To be continued...

Cerpenku: Tanah Air (Negeri Sendiri)

Assalamu’alaykum Wr.Wb..
Cerita ini hanyalah cerita fiktif hasil karya imajinasi, merupakan suatu CERITA ANALOGI yang diangkat dari kehidupan nyata sang penulis.
Perkenalkan namaku Ran, Azura Mutiara Kiran lengkapnya, anak bungsu dari empat bersaudara. Aku lahir di negeri yang kaya akan sumber daya alam, tepatnya di sebuah kota kecil di tengah megahnya dua gunung dan dikelilingi deretan perbukitan, sebut saja kota hutan. Delapan belas tahun aku menetap dengan cerita kehidupan yang bisa terbilang nyaman, rasa bangga dan tertarik dengan negeri ini pun mulai tumbuh subur di hati. Sampai suatu ketika usiaku mulai dewasa, pemikiranku mulai matang, dan pengalamanku mulai banyak, kulihat dan kurasakan negeri ini tidak seindah semasa kecilku dahulu, pandanganku terhadapnya bagaikan pandangan sebelah mata. Melalui siaran televisi, aku melihat negeri di luar sana lebih indah dari negeri ini. Pesona keelokannya membuat orang-orang lebih ramai mengunjungi tempat itu. Aku ingin kesana, batinku. Aku pun memutuskan untuk berkelana ke negeri lain.
Saat tiba di negeri pertama keadaannya sangat berbeda dengan negeriku, dengan teknologinya yang sudah maju, semua serba canggih. Aku menjelajahi isi negeri tersebut dan kutemukan sebuah barang yang hendak kubeli untuk dijadikan buah tangan, ternyata setelah diteliti barang tersebut buatan negeriku sendiri. Aku sedikit tak percaya, barang karya negeriku dapat menembus pasar negeri semaju ini. Akhirnya kuurungkan niat untuk membelinya. Jauh-jauh ke negeri orang hanya untuk membeli barang negeri sendiri, alangkah lebih baiknya jika membeli langsung dari pembuatnya di negeri sendiri, pikirku. Tak lama tinggal di sini, perasaan bosan mulai menyelimuti, terlebih gaya hidup dan pergaulan di sini terbilang seronok, menambah ketakutan pada diri, tak seperti di negeri sendiri yang penduduknya masih memiliki rasa malu. Kerinduan itu mulai kurasakan.
Aku putuskan untuk berkelana ke negeri kedua, memang tak seindah dari negeri pertama namun tak ada salahnya menginjakkan kaki ke negeri yang belum pernah kujelajahi. Tak berapa lama tinggal, aku memutuskan untuk berkelana ke negeri lain. Hal ini karena penduduk di sini acuh tak acuh dan terbilang tidak ramah bahkan sulit untuk diajak basa-basi, semua serba serius serasa tak ada interaksi sosial karena sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika hendak membeli buah tangan, aku menemukan barang yang ternyata juga buatan negeriku. Sangkaanku terhadapnya ternyata kurang sesuai dengan pandangan awalku. Rasa bangga diikuti rasa rindu ingin kembali mulai muncul, terlebih jika mengingat perilaku penduduk negeri ini yang tidak seramah di negeri sendiri. Tapi keinginan untuk menjelajahi negeri lain yang lebih indah seperti yang pernah ku lihat di televisi begitu besar sehingga kuurungkan niat untuk kembali ke negeri sendiri.
Di negeri ketiga ini, ragam budayanya dapat dibilang banyak, namun ada perasaan sedikit mengganjal di hati. Salah satu budaya negeriku di tampilkan di sini dan diakui murni budaya negeri ini. Aturan yang melarang mengenakan hijab pun ditegakkan di beberapa wilayah negeri ini. Aku yang sejatinya seorang muslim sudah barang tentu mengetahui bahwa hijab adalah suatu kewajiban, tentu tidak akan melepaskannya begitu saja meskipun orang-orang disini menyarankan untuk melepas, dan tak sedikit yang mencemooh. Perasaan menyesal itu mulai muncul, ketika semakin jauh aku menjelajah negeri lain semakin tak seindah dan sebaik negeri sendiri. Perasaan itu mencuat dengan mengetahui budaya negeri sendiri diklaim oleh negeri lain. Dan lagi-lagi barang buatan negeri sendiri menembus wilayah yang notabene jauh dari jangkauan negeriku. Kerinduan akan negeri sendiri membuatku kembali setelah sekian lama aku meninggalkannya karena mencari negeri yang lebih indah darinya.
Saat aku kembali ke negeri sendiri, aku mulai paham bahwa yang ditampilkan oleh negeri lain dalam siaran televisi hanyalah keindahan bentang alam, budaya serta perilaku yang baik di mata orang sehingga mampu menarik wisatawan untuk berkunjung, sedangkan kejadian-kejadian yang tidak baik disembunyikan dari publik. Bandingkan dengan negeri sendiri yang tiap hari selalu ada saja kejadiannya, dan mudah berkembang menjadi sorotan sehingga publik dapat dengan cepat mengetahuinya. Namun itu hanyalah pandangan sebelah mata karena tak selamanya penampakan luar yang indah menampilkan kesan yang indah pula di dalamnya. Negeri ini sejatinya indah jika lebih mendalami untuk mengenal sejarahnya, hanya karena dipandang sebelah mata saja oleh penduduknya sehingga pancaran alami dari dalam negeri ini pun redup. Pengalaman berkelana ke negeri lain menjadi guru terbaik bagiku, apa yang aku inginkan memang ada di negeri lain namun apa yang sebenarnya aku butuhkan ternyata ada di depan mata, hanya perlu menengok lebih dalam untuk dapat mengenalnya, mempelajari dengan lebih sabar dan serius agar dapat mengetahuinya, serta menjaga dan melestarikan dengan penuh cinta agar memperoleh manfaatnya. Ya, di sini, di negeri sendiri. Sebuah petikan sajak dari sebuah syair pun berbunyi:
Walaupun banyak negeri ku jalani, 
yang mahsyur permai dikata orang, 
Tetapi kampung dan rumahku, 
di sanalah kurasa senang,
Tanahku tak kulupakan, 
engkau kubanggakan.
Wa’alaykumussalam Wr.Wb..

By:
RAN’s

Rabu, 20 Agustus 2014

PUSAKANING DWI PUJANGGA NYAWIJI

Apa yang terlintas dipikiran saat melihat judul tersebut? Adakah terlintas bayangan bahwa judul tersebut menggambarkan isi tentang cerita wayang? Hihi..
Inilah semboyan kotaku yang selalu membuat rindu orang yang mengunjunginya, termasuk aku yang asli tinggal di sini. Dua pusaka yang menjadi satu (SALAH), taukah anda apa itu? Ternyata Pusakaning Dwi Pujangga Nyawiji merupakan sengkalan jawa yang menunjukkan tahun berdirinya kota ini (Pusakaning=5, Dwi=2, Pujangga=8, Nyawiji=1) sehingga dapat dibaca 5281 dan merupakan sangkalan untuk tahun 1825. Sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan berhawa sejuk, ditambah pesona megah berdirinya sang kakak beradik, gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Ya.. Wonosobo. Kota yang mampu menarik dan memikat hati bagi yang memandangnya. Kota dengan kesederhanaannya, namun indah karena pesonanya. Saat memasuki kawasan Wonosobo, kalian akan disambut dengan ramah oleh udara dingin nan sejuk yang mampu menggetarkan hati, bila cuaca cerah sambutan kedua berupa pemandangan megah berdirinya sang kakak beradik di sebelah kanan dan kiri bagai berucap selamat datang, sambutan terakhir saat memasuki gerbang kota yaitu sebuah sajak “Pusakaning Dwi Pujangga Nyawiji” dengan diiringi tulisan “Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah)”. Itulah perkenalan singkat dari sebuah “kota hutan”.
Hai, namaku Ran. Usiaku saat ini 19 tahun. Tak pernah terbayangkan 18 tahun aku tinggal di kota ini dan beranjak mulai meninggalkannya seiring studi lanjutku di Semarang. Hal yang membuatku selalu rindu dengan kota ini adalah udara sejuknya dengan pemandangan dua gunung megah yang setia berdiri kokoh. Disaat ada waktu luang, aku sempatkan untuk pulang menenangkan hati dan pikiran yang lelah diajak berkomunikasi tiada henti. Setiap hendak pulang, tak selalu berjalan lancar, tak sedikit halangan yang menghadang, namun prinsipku, “apapun yang menghalangiku untuk pulang, akan ku lewati meskipun penuh risiko, asalkan dapat menghirup udara sejuk itu dan bertemu keluarga di rumah”.
Alkhamdulillah ujian akhir semester III sudah selesai, ini berarti mempersiapkan planning berlibur ke Dieng Plateau bersama dua sahabatku. Rencana awal yaitu semua sahabatku, 5 orang ikut, namun mereduksi satu per satu dan hanya tersisa dua, Nafa dan Rini, hihi.. tak apalah, dimana ada kemauan pasti ada kesempatan. Oke rencana ke rumahku Sabtu siang, 18 Januari 2013 seusai acara musyat organisasi. Pada Kamis malam sebelum hari H, ada sebuah pesan masuk dari Rini, ternyata dia menjadi MC dalam acara musyang pada hari Senin. Oh apa yang harus aku lakukan, uang sakuku sudah limited edition, beras sudah diambang habis, air galon tingginya hanya beberapa sentimeter, aku pun sudah berkata kepada Ibu dan temanku Iid akan pulang hari Sabtu siang. Pikiranku seperti benang yang bundet, masalahku hari ini berderet-deret mengantri untuk diselesaikan, belum sampai masalah satu kelar, masalah lain datang meminta protes, dari mulai pengisian KRS yang kurang jelas, mengirim soft file LPJ musyat yang sudah ditunggu-tunggu, rencana main ke kost temenku di Pedurungan, sampai dana warung ilmiah yang aku pun tak tahu apa-apa tentang itu karena aku bukan bendahara, dan terakhir tentang acara main ke Dieng yang sudah matang sejauh-jauh hari sebelumnya. Aku katakan kepada Nafa mungkin acara main dibatalkan dan ku jelaskan alasannya. Ia pun memarahiku dan kecewa. Tak terasa air mataku menetes dan kian mengalir deras membaca pesan panjangnya. Aku menjauhkan ponselku dan merenungkan diri apa yang harus aku perbuat. Lama aku memikirkannya akhirnya dengan berat hati aku katakan kepada Nafa dan Rini bahwa acara main diundur Senin dengan konsekuensi tak ada yang mengantar kami ke Dieng nantinya (rencana awal diantar kakakku), aku pun sudah memberitahu Ibuku dan Iid. Akhirnya pun beberapa masalah dapat kuatasi dengan mengesampingkan egoku. Keesokan harinya aku dan Nafa pergi ke kost teman SMA-ku di Pedurungan, cuaca tak mendukung. Tujuan kami karena ada kepentingan, sepulang dari kost teman (sekitar pukul 13.20), aku dan Nafa ke kampus dengan basah kuyub karena kehujanan, ternyata teman-teman rombel sudah menunggu. Siang ini rombelku mengadakan acara makan-makan bersama asdos Taksonomi Hewan di Mas Pur. Hari Sabtu cuaca tak mendukung, semua mendung dan gelap diiringi guyuran hujan yang tiada henti dan acara musyat organisasiku ternyata usai pukul 16.30 WIB, inilah hikmah dari diundurnya rencana main. Pada hari Minggu malam disaat aku sedang santai di kamar, sebuah pesan singkat masuk, itu dari Iid yang berisi ia meminta maaf bahwa pulang ke Wonosobo diundur menjadi Selasa pagi karena Senin malam ada jadwal les (haduh, diundur lagi). Aku membicarakannya terlebih dahulu Nafa dan diputuskan kata sepakat pulang Selasa pagi. Akhirnya hari yang ditunggu-tuggu itu pun tiba, Selasa pagi pukul 06.15 aku berpamitan dengan Ibu kost dan berangkat menuju gang rumah kost Rini. Tak berapa lama, ia pun datang dan disusul oleh Iid, lalu kami menuju kost Nafa. Selama perjalanan cuaca selalu mendung dan terkadang hujan turun mengguyur, terpaksa kami berhenti sejenak dan memakai jas hujan. Di seperempat perjalanan, tepatnya di daerah Sumowono, kami beristirahat sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan, mengganjal perut kami dengan sebuah roti. Kabut tebal dan hujan membuat jarak pandang menjadi pendek. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan, ternyata di Temanggung kota tidak hujan, karena malas melepas jas hujan aku pun PD saja karena ku lihat di daerah barat (arah ke Wonosobo) terlihat mendung. Benar saja di daerah desa bernama Paponan hujan mengguyur lagi, sayangnya puncak gunung Sumbing dan gunung Sindoro tak terlihat jelas karena tertutup kabut, namun begitu Nafa yang satu motor denganku merasa takjub dan senang dengan pemandangan yang ku perlihatkan padanya. Sampai di kota Wonosobo ternyata tidak hujan, tetap saja dengan PD aku memakai jas hujan. Sampai di depan gang rumahku ternyata Iid dan Rini belum tiba. Menunggu sebentar akhirnya datang juga. Aku mengucapkan terima kasih kepada Iid karena sudah mau direpotkan dan menawarkan untuk ke rumahku, namun ia menolak. Sebelum ia pergi aku pun meminta bantuan kembali untuk menemani kami (aku, Nafa, dan Rini) main ke Dieng, jawabannya Insya Allah. Sampai di rumahku istirahat sebentar dan kami bertiga keluar untuk mencari makan siang. Sore harinya kami jalan-jalan ke Alun-alun dan Pendopo dan kemudian membeli baju. Pagi harinya, pukul 08.15 Iid sampai di depan gang rumahku, kami pun langsung berangkat ke rumah teman kami terlebih dahulu, yaitu Linda (kemarin kami mengajaknya karena dia ada motor namun tak bisa menggunakan, maka Nafa yang akan boncengan dengan Linda, aku dengan Rini, dan Iid sendiri). Tujuan awal kami adalah Tambi, yaitu hamparan kebun teh dengan pemandangan yang menakjubkan, tak lupa kami berfoto-foto ria, hehe. setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di gardu pemandangan. Namun sayang, cuaca mendung dengan angin kencang disertai butir-butir air. Dingin.. tentu, kabut.. ya,  kami semua gemetaran, tapi semua itu sedikit demi sedikit hilang dengan sebuah pemandangan menakjubkan (Subhanallah). Next, akhirnya setelah melewati jalan berliku dan menanjak, kami sampai di pintu masuk Dieng Plateau, lagi-lagi Iid ketinggalan, terpaksa kami menunggunya sambil membayar tiket masuk (harganya @ Rp20.000,00 tapi kami menawar menjadi @ Rp16.000,00). Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Nafa dan Rini takjub melihatnya. Tak terasa waktu sholat Dhuhur tiba, aku, Nafa, dan Iid sholat di Mushola tempat kami parkir, sedang Rini dan Linda menunggu di luar Mushola. Seusai sholat kami melanjutkan ke obyek kedua, yaitu Dieng Cinema. Namun, disaat keluar dari tempat parkir, ban motor Iid bocor, kami pun mencari tempat tambal ban dan menunggunya. Lama kami menunggu akhirnya selesai juga dan kami langsung tancap gas menuju Dieng Cinema. Wow.. yang menonton film hanya kami berlima disebuah ruangan yang cukup luas. Keluar dari tempat tersebut kami terkejut karena cuaca menjadi berkabut dan mendung, karena takut kehujanan maka kami terpaksa melewatkan satu obyek, yaitu Sikidang Crater dan menuju ke kawasan Candi Arjuna, saat pulang Rini tak lupa untuk membeli bunga abadi, yaitu bunga Edelweis yang kebetulan banyak dijual disekitar tempat parkir kawasan candi. Setelah puas kami pun pulang dan tiba di pusat oleh-oleh waktu Ashar, lalu kami mampir ke rumah Linda terlebih dahulu untuk sholat dan sekedar istirahat. Ada sebuah pesan masuk, itu dari Ibuku. Beliau menyuruhku untuk tidak pulang terlalu sore. Akhirnya kami pamit pulang dan membeli mie ongklok, makanan khas Wonosobo di Longkrang. Aku sempat membelikan Iid mie ongklok sebagai tanda terima kasihku padanya. Sampai di rumah, kami bertiga langung menyantap mie ongklok yang sudah kami beli tadi. Usai makan, Nafa dan Rini langsung berebut kamar mandi. Ba’da Maghrib, Bapakku mengajak kami dan keluargaku makan mie ongklok di Jl. A. Yani yang terkenal enak. Haduh, mie ongklok dalam perut kami belum selesai dicerna sudah harus ditambah mie ongklok lagi. Karena kenyang, Nafa dan Rini sepiring berdua, aku hanya makan satenya saja sambil sesekali mencicipi mie ongklok milik Ibuku, hihi.. ternyata rasanya lebih nendang (emangnya sepak bola) dari yang tadi kami beli, Nafa dan Rini pun mengakuinya dan jatuh hati pada rasa mie ongklok. Perjalanan yang lelah hari ini membuat kami bertiga tidur lebih awal, karena besok Nafa dan Rini pulang ke daerah masing-masing. Esok harinya, sekitar pukul 06.10 keluargaku mengantar Nafa dan Rini ke terminal Mendolo. Di Plaza, ada bus jurusan Semarang-Purwokerto sedang berhenti untuk mencari penumpang. Karena masih sepi dan lama, kami memilih ke terminal dan ternyata di terminal tidak ada bus jurusan Semarang-Purwokerto, akhirnya kami memutar arah dan kembali ke Plaza tempat bus tadi nge-time, berharap busnya masih ada. Alhamdulillah busnya masih ada, dan di dalamnya sudah ada beberaa penumpang. Setelah memastikan kedua sahabatku duduk di dalam bus, aku beserta keluarga pulang.
Itulah sepenggal kisah tentang Dataran Tinggi Dieng yang aku kunjungi untuk mengisi liburan kali ini. Tempat khas yang dapat memikat hati orang-orang yang mengunjunginya, sehingga mereka yang pernah berkunjung ke tempat tersebut ingin mengunjunginya kembali, salah satu tempat unggulan wisata dengan pesona alam yang dimiliki kota ini, kota yang berciri khas, dengan banyak budaya, makanan khas, serta obyek-obyek wisata menakjubkan yang belum banyak diketahui orang. WONOSOBO ASRI.. kau selamanya di hati.
 

Pendapat anda mengenai blog ini ?

like

  • #Udah Putusin Aja
  • As Shirah Nabawiyah
  • Q.S. Ar-Rahman
  • Tahajud Cinta
  • Ya ALLAH Aku Jatuh Cinta

Translate